Langsung ke konten utama

Budaya ramah? itu dulu.



Zaman dahulu Negara kepulauan diAsia tenggara ini sangat terkenal oleh keramah-tamahan, karena masyarakat zaman itu sangat menjunjung tinggi nilai leluhur dan mencintai perbedaan. Negara itu sekarang kita kenal dengan Indonesia, Negara yang identik dengan burung garuda ini memiliki 1.001 jenis bahasa dan 714 suku yang tersebar di 16.671 pulau. Keunikan setiap daerah dari kuliner sampai logat bahasanya menjadi ketertarikan sendiri, namun ada satu yang membedakan bangsa ini dengan bangsa lainnya, yaitu eratnya hubungan dimasyarakatnya juga sikap ramah dengan senyum manis yang belum tentu ditemui dibelahan bumi manapun.
Seperti anak ayam yang kehilangan induknya, diabad 21 ini Indonesia mulai kehilangan identitas mereka sebagai Negara yang memiliki penduduk yang ramah kini mulai menjelma sebagai Negara yang penuh kecurigaan terhadap orang disekitar mereka, semua penuh dengan caci maki, rasis, suara lantang kebencian dan senyum yang sangat langka. Selayaknya anak ayam yang kehilangan induknya manusia Indonesia sangat kebingungan dengan lingkungannya sendiri, mereka tidak bisa membedakan mana teman dan mana musuh mereka padahal mereka semua sama-sama manusia, sama-sama keluar dari perut manusia, sama-sama terbuat dari cairan manusia. Sangat janggal sampai mereka semua masih mengkotakan manusia disekitar mereka, yang jadi pertanyaan garis besarnya adalah apa penyebab ini semua? Dan siapa yang harus disalahkan? Jawabannya sangat sederhana, yaitu manusianya sendiri, mereka lebih memilih tidak percaya dengan sekitar mereka demi membela yang maha agung mereka, entah partai politik, ideologi atau tokoh masyarakat, dan benalu ini semakin menjadi-jadi karena media sosial dan budaya digital yang mereka ciptakan sendiri, akses informasi yang sangat deras tidak diimbangi dengan penangkapan informasi yang mengumpuni, kebiasaan buruk hanya membaca tulisan besar dalam berita ini bisa menyebabkan perselisan dimasyarakat dan mengancam sikap ramah yang sudah dibangun oleh leluhur. Hilang sudah ramah-tamah dinegara ini karena manusia itu sendiri, mulai hilang gotong royong karena pilihan politik, punahnya tegur sapa karena perselisihan pendapat, sangat disayangkan budaya langka yang manis ini hilang karena manusianya sendiri.
Tetapi itu semua berlaku bagi daerah maju yang sudah terkontaminasi kehidupan budaya luar dan derasnya arus informasi, mereka jadi acuh tak acuh terhadap manusia lain, sangat sangat disayangkan. Berbeda dengan keadaan yang ada didaerah yang jauh dari pusat kota, manusia disana masih memegang teguh nilai leluhur dan cukup cuek dengan dunia digital, mereka masih memiliki perasaan tidak enak jika berhutang seasuatu dan merasa bahwa manusia umumnya harus bertegur sapa juga ramah dengan manusia lainnya, pemandanga  itu cukup langka bagi beberapa orang dikota dan mungkin orang kota merindukan sikap ramah tetapi tempat mereka tidak mendukung itu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengennya apa dapetnya apa.

    Bohong kalau ada manusia yang tidak menyesal, waktu bukan hal yang bisa ditebak, direncanakan, apalagi diulang ia unik hanya terjadi sekali, perbandingannya 0,001:1.000. Kita hidup dengan banyak pilihan, kadang bisa salah, terjebak, untung-untung kalo cocok. coba pikir lagi apakah hidup yang kamu jalani sekarang adalah hidup yang kamu inginkan? mungkin iya, 1 dari 3 manusia hidup dengan apa yang mereka rencanakan, sisanya? cuma dia dan piring kotor bekas somay yang tau. Dari situ mungkin muncul pertanyaan, apakah memang dunia diciptakan untuk manusia atau manusia yang menciptakan dunia, kalau dipikir-pikir big bang aja gak sengaja kan ya? ahh ga tau lah, bukan itu intinya -saya akan menggunakan kata universe untuk mengganti kata "dunia"- balik lagi ke pertanyaan tadi, apakah kita hidup untuk membuat universe atau universe ini memang sudah ada untuk kita? lihat dirimu, lihat realitanya, ada yang mau jadi akademisi filsafat berujung programer lepas, ingin hati menjadi ja...

Covid-19 tanggung jawab siapa?

    Pademi covid-19 atau yang lebih dikenal sebagai virus corona adalah pademi virus yang berlangsung pada Desember 2019 yang disebabkan aleh virus SARS CoV-2 yang membuat sindrom pernafasan akut, wabah ini diidentifikasi pertama di Wuhan,Cina.WHO menyatakan wabah itu sebagai Public health emergency of internation concern pada 30 Januari dan pademi ini dinyatakan pada 11 maret, pada 7 Mei 2020 sudah ada lebih dari 3juta kasus di 187 negara terlapor menyebabkan 269.000 korban dan lebih dari 1juta yang sembuh.     Pademi ini menyebabkan banyak terciptanya keterbatasan dari segi sosial dan ekonomi. lalu siapa yang harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi saat? apakah cina karena sudah membuat covid menyebar, WHO karena kurang tanggap, elite global atau beberapa negara-negara dunia yang membuat ini menjadi sepele. Jelas karena situasi yang makin parah ini mulailah berhenti mencari kambing hitam dari pademi ini, ini semua murni kesalahan manusia send...

Tiga penyebab terciptanya kebahagiaan

Tri Hita Kirana, Tri yang artinya tigam Hita yang artinya kebahagiaan dan Kirana yang artinya penyebab. Jika disatukan maka Tri Hiata Kirana bermakna tiga penyebab terciptanya kebahagiaan. Istilah ini pertama muncul pada 11 november 1966 pada saat diadakannya Konfrensi Daerah 1 Badan Perjuangan Umat Hindu yang dilaksanakan di Perguruan Dwijendra Denpasar. Konfrensi tersebut terjadi karena umat Hindu sadar akan dharmanya dalam keikut sertaan untuk membangun bangsa sejaterah dan makmur berdasarkan pancasila. Konsep kosmologi Tru Hita Kirana ini merupakan falsafah hidup tangguh. Falsafah ini memiliki konsep yang dapat melestarikan budaya dan lingkungan di tengah gempuran Globalisasi dan lingkungan yang heterogen, singkatnya ajaran ini menekankan manusia untuk menjaga dan memelihara tiga hubungan, yaitu hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan lingkungan alam dan hubungan dengan tuhan, tiga hubungan ini sangat memiliki keterikatan dan memiliki pedoman hidup yang sama...